Pertimbangan Etika dalam Pengambilan Keputusan

Pertimbangan etika dalam pengambilan keputusan
Brigita Lahutung

APA ITU ETIKA??
Pada pengertian yang paling dasar, etika adalah sistem nilai pribadi
yang digunakan memutuskan apa yang benar, atau apa yang paling tepat, dalam
suatu situasi tertentu; memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang
ada dalam organisasi dan diri pribadi.
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos atau taetha yang berarti tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan atau adat istiadat. Oleh filsuf Yunani, Aristoteles, etika digunakan untuk menunjukkan filsafat moral yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan kebajikan dan suara hati.
Etika juga diartikan pula sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan studi tentang tindakan-tindakan baik ataupun buruk manusia di dalam mencapai kebahagiaannya. Apa yang dibicarakan di dalam etika adalah tindakan manusia, yaitu tentang kualitas baik (yang seyogyanya dilakukan) atau buruk (yang seyogyanya dihindari) atau nilai-nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentang kearifannya dalam bertindak.

http://januarsutrisnoyayan.wordpress.com/2008/10/27/apa-itu-etika/

Etika (Yunani Kuno: “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”) adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.[
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

Menurut Mathis dan Jackson, etika memiliki dimensi-dimensi konsekuensi luas, alternatif ganda, akibat berbeda, konsekuensi tak pasti, dan efek personal.
Ø Konsekuensi Luas : keputusan etika membawa konsekuensi yang luas. Misalnya, karena menyangkut masalah etika bisnis tentang pencemaran lingkungan maka diputuskan penutupan perusahaan dan pindah ke tempat lain yang jauh dari karyawan. Hal itu akan berpengaruh terhadap kehidupan karyawan, keluarganya, masyarakat dan bisnis lainnya.
Ø Alternatif Ganda : beragam alternatif sering terjadi pada situasi pengambilan keputusan dengan jalur di luar aturan. Sebagai contoh, memutuskan seberapa jauh keluwesan dalam melayani karyawan tertentu dalam hal persoalan keluarga sementara terhadap karyawan yang lain menggunakan aturan yang ada.
Ø Akibat Berbeda : keputusan-keputusan dengan dimensi-dimensi etika bisa menghasilkan akibat yang berbeda yaitu positif dan negatif. Misalnya mempertahankan pekerjaan beberapa karyawan di suatu pabrik dalam waktu relatif lama mungkin akan mengurangi peluang para karyawan lainnya untuk bekerja di pabrik itu. Di satu sisi keputusan itu menguntungkan perusahaan tetapi pihak karyawan dirugikan.
Ø Ketidakpastian Konsekuensi : konsekuensi keputusan-keputusan bernuansa etika sering tidak diketahui secara tepat. Misalnya pertimbangan penundaan promosi pada karyawan tertentu yang hanya berdasarkan pada gaya hidup dan kondisi keluarganya padahal karyawan tersebut benar-benar kualifaid.
Ø Efek Personal : keputusan-keputusan etika sering mempengaruhi kehidupan karyawan dan keluarganya, misalnya pemecatan terhadap karyawan disamping membuat sedih si karyawan juga akan membuat susah keluarganya. Misal lainnya, kalau para pelanggan asing tidak menginginkan dilayani oleh “sales” wanita maka akan berpengaruh negatif pada masa depan karir para “sales” tersebut.

http://ronawajah.wordpress.com/2010/12/04/kebutuhan-akan-etika-kerja/

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

Nilai Etika dan Moral dalam Pengambilan Keputusan Jumat, 04 April 2008 08:00 WIB
Oleh: Rinella Putri
(Vibiznews – Leadership) – Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan pada dilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya.
Misalnya seperti kasus Enron, tentunya pengambilan keputusan dilakukan tanpa mengacu pada nilai-nilai etika dan moral. Oleh karena itu, hasilnya adalah kehancuran. Maka, ada baiknya sebelum Anda mengambil keputusa mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
•Autonomy
Isu ini berkaitan dengan apakah keputusan Anda melakukan eksploitasi terhadap orang lain dan mempengaruhi kebebasan mereka? Setiap keputusan yang Anda ambil tentunya akan mempengaruhi banyak orang. Oleh karena itu, Anda perlu mempertimbangkan faktor ini ke dalam setiap proses pengambilan keputusan Anda.
Misalnya keputusan untuk merekrut pekerja dengan biaya murah. Seringkali perusahaan mengeksploitasi buruh dengan biaya semurah mungkin padahal sesungguhnya upah tersebut tidak layak untuk hidup.

• Non-malfeasance
Apakah keputusan Anda akan mencederai pihak lain? Di kepemerintahan, nyaris setiap peraturan tentunya akan menguntungkan bagi satu pihak sementara itu mencederai bagi pihak lain. Begitu pula halnya dengan keputusan bisnis pada umumnya, dimana tentunya menguntungkan bagi beberapa pihak namun tidak bagi pihak lain.
Misalnya kasus yang belakangan menghangat yaitu pemerintah dengan UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang baru disahkan dan ditentang oleh banyak pihak. Salah satunya implikasi dari UU tersebut adalah pemblokiran situs porno. Meskipun usaha pemerintah baik, namun banyak pihak yang menentangnya.

•Beneficence
Apakah keputusan yang Anda ambil benar-benar membawa manfaat? Manfaat yang Anda ambil melalui keputusan harus dapat menjadi solusi bagi masalah dan merupakan solusi terbaik yang bisa diambil.

• Justice
Proses pengambilan keputusan mempertimbangkan faktor keadilan, dan termasuk implementasinya. Di dunia ini memang sulit untuk menciptakan keadilan yang sempurnam namun tentunya kita selalu berusaha untuk menciptakan keadilan yang ideal dimana memperlakukan tiap orang dengan sejajar.
Misalnya dalam keputusan reward, Astra Internasional mempunyai 2 filosofi dasar. Pertama adalah fair secara internal, dimana setiap orang dengan dengan golongan yang sama dan prestasi yang sama maka pendapatannya juga sama. Keputusan ini mencerminkan keadilan di dalam perusahaan itu sendiri. Sementara itu, filosofi lainnya adalah kompetitif secara eksternal, atau gaji yang bersaing dalam industri.

• Fidelity
Fidelity berkaitan dengan kesesuaian keputusan dengan definisi peran yang kita mainkan. Seringkali ini melibatkan ‘looking at the bigger picture’ atau melihat secara keseluruhan dan memahami peran Anda dengan baik.

Misalnya keputusan Chairman Federal Reserve, Ben S. Bernanke untuk menyelamatkan Bear Stearns dengan cara menyokong dana bagi akuisisi JPMorgan terhadap Bear Stearns senilai $30 miliar dan dipertanyakan oleh banyak pihak. Namun, Bernanke berpendapat bahwa ia melakukannya demi mencegah kekacauan finansial yang akan dialami pasar jika Bear Stearns benar-benar bangkrut.

http://www.managementfile.com/journal.php?sub=journal&awal=70&page=strategic&id=91

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

Pengambilan keputusan yang etis
Ada beberapa ciri-ciri dalam pengambilan keputusan yang etis:
• Pertimbangan tentang apa yang benar dan apa yang salah.
• Sering menyangkut pilihan yang sukar.
• Tidak mungkin dielakkan.
• Dipengaruhi oleh norma, situasi, iman, tabiat dan lingkungan sosial.

http://jameswidodo-heart.blogspot.com/2009/11/pengambilan-keputusan-etis-dan-faktor.html

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

KRITERIA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS
1. Pendekatan bermanfaat
Pendekatan bermanfaat(utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad kesembilan belas ,pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika bahwa prilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar.
2. Pendekatan individualisme
Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang indivudu.
3. Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
-hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan.
-hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan di luar pekerjaanya.
-hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan perintah yang melanggar moral dan norma agamanya.
-hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain.
-hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan berhak atas perlakuan yang adil.
-hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan ancaman terhadap kesehatan dan keamananya.
PILIHAN-PILIHAN ETIS SEORANG MANAJER
1. Tingkat prekonvesional =mematuhi peraturan untuk menghindari hukuman. Bertindak dalam kepentingannya sendiri.
2. Tingkat konvensional =menghidupkan pengharapan oranglai. Memenuhi kewajiban sistem sosial. Menjujnjung hukum.
3. Tingkat poskonvensional=mengikuti prinsip keadilan dan hak yang dipilih sendiri. Mengetahui bahwa orang-orang menganut nilai-nilai yang berbeda dan mencari solusi kreatif untuk mengatasi dilema etika. Menyeimbangkan kepentingan diri dan kepentingan orang banyak.

http://henryfoyalcommunity.blog.perbanas.ac.id/

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

Sebagian besar kehidupan kita sehari2 diwarnai oleh pengambilan keputusan secara etis. Perhatikan situasi berikut. Saat anda selesai bekerja, anda menjemput anak anda yang masih kecil dari rumah pengasuhnya dan singgah sebentar di sebuah super market untuk membeli beberapa barang untuk menyambut kedatangan saudara anda yang akan berkunjung malam ini. Di toko, anda bertemu seorang teman dan anda berbincang2 sebentar dengannya. Anda berbicara tentang hujan yang tak turun2, tentang diskon di bagian pakaian dan keinginan untuk potong rambut. Selama itu, anak anda berjalan melihat2 aneka macam kue di bagian makanan.
Ini kelihatannya peristiwa singkat, namun dalam pikiran anda terdapat pengambilan keputusan secara etis yang berlanjut berdasarkan nilai2 dasar yang anda yakini. Anda membiarkan anak anda berjalan melihat2 karena anda ingin ia tumbuh sebagai seorang yang mandiri dan penuh rasa ingin tahu. Teman anda adalah sahabat yang memberi anda kekuatan dan dukungan selama bertahun2. Ia pernah mencucikan pakaian anda selama ayah anda sakit selama sebulan. Anda tahu bahwa anaknya punya masalah dengan narkoba sehingga anda berhati2 berbicara mengenainya sambil mencermati air mukanya dan nada suaranya.
Mendadak anda menghentikan pembicaraan dan berlari menyelamatkan anak anda yang hampir tertimpa susunan gelas. Disini anda peduli dan berusaha menyelamatkan seseorang yang anda cintai. Sekali lagi, sebuah keputusan etis.
Lembaga filantropi
Lembaga2 filantropi adalah lembaga yang misinya menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan kreativitas, skill dan pemahaman atas ‘hidup yang lebih baik’ yang di kembangkan bebas dalam masyarakat. Lembaga ini berbasis pada keputusan etis untuk mengalirkan energi moral untuk masyarakat. Seperti yang di ibaratkan sebagai rumah penggilingan oleh Jane Adams.
Sebagai mahluk biologis yang memiliki kecerdasan tinggi, kita menggunakan seni, budaya dan simbol agama serta upacara2 untuk menunjukkan perbedaan kita. Plato berkata “penyair mendapat kekuatan mereka dari air mancur di taman dan bisikan para dewi. Kekuatan itu terbang laksana lebah. Cahayanya terbang dan suci masuk menjadi inspirasi di luar indera sang penyair. Dimana ia tak lagi berpikir.”. Seperti halnya metafora Plato ini, banyak organisasi filantropis memakai ekspresi inspirasi suci dengan seni dan agama untuk menopang masyarakat.
Gotong Royong
“Gotong royong yang sukarela…. adalah sumbangan yang begitu berharga bagi kehidupan” demikian pendapat Dewey. Beliau menyatakan bahwa gotong royong adalah sebuah penghargaan atas kesetaraan dalam masyarakat. Ini adalah lawan dari paksaan atau koersi. “Bergotong royong dengan memberi mereka yang berbeda, kesempatan untuk berekspresi bukan hanya hak asasi seseorang, namun juga cara untuk memperkaya pengalaman hidup individu.” Contohnya adalah sumbangan atas korban bencana alam. Bila sumbangan ini ditentukan penggunaannya hanya oleh penderma, maka ada kemungkinan aset tersebut tidak bekerja optimal. Sebaliknya, bila terdapat gotong royong untuk mendistribusikan ayat tersebut untuk fasilitas kesehatan dan perumahan dsb, efeknya menjadi maksimal. Sang penderma dapat menyetarakan dirinya dengan penerima sumbangan dan ikut melihat hasil nyata dari sumbangannya. Inilah gotong royong yang sukarela yang dimaksud oleh Dewey.
Simpati
Ada sebuah kasus menarik untuk dibahas mengenai pengambilan keputusan secara etis. Adolf Eichmann adalah seorang yang normal dalam hal memiliki integritas tinggi pada pekerjaannya. Tahun 1938, beliau memimpin pusat emigrasi yahudi dan sangat berhasil dalam menanganinya, terutama dalam menggalang dana amal untuk membiayai kepulangan kaum yahudi yang miskin. Namun di masa Hitler, beliau dipekerjakan sebagai bagian imigrasi, yang memulangkan kembali 11 juta yahudi tersebut ke kamp konsentrasi untuk dibantai. Dan ia sama sekali tidak merasa bersalah atas hal itu. Menurut Hannah Arendt, yang membahas secara detil kasus ini, Eichman tidak peduli dengan apapun yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaannya sebagai kepala bagian transportasi, baik secara teknis maupun birokrasi.
Ketidak mampuan Eichmann berpikir ari sudut pandang orang lain jelas terlihat pada perbendaharaan bahasanya yang sangat miskin dan penuh klise. NAZI memang terkenal dalam keahliannya memanipulasi bahasa. Lihat saja tulisan di gerbang konsentrasi, “Kerja adalah kebebasan”. Atau slogan SS nya, “Kehormatanku adalah kesetiaanku.” Dan slogan dari pusat pembantaian yahudi di Auschwitz dan treblinka sebagai “Yayasan penyumbang kepedulian sosial”. Kisah Eichmann menunjukkan dimensi dari etika yang lenyap, yaitu simpati. Ia berpikir bahwa ia membantu yahudi selamat saat menggiring mereka keluar dari wilayah pendudukan NAZI. Ia tidak dapat memahami perasaan orang yahudi mengenai tindakannya. Eichmann juga tidak memahami kegiatannya dalam konteks yang lebih luas. Ia benar2 tidak perduli dengan kenapa orang2 yahudi itu di kirim dan apa yang akan terjadi pada mereka di tempat tujuan.
Adalah sebuah hal yang terlihat kecil bagi kita, namun memiliki dimensi etis yang sama dengan yang dibahas dalam kasus Eickmann, mengenai masalah yang kita temukan saat ini. Kita tahu bahwa dampak merokok bagi kesehatan seperti kecanduan, penyakit jantung dan kanker. Namun uang dari perusahaan rokok, telah mendanai layanan2 vital masyarakat. Sebagai contoh, PT Gudang Garam telah menyumbang bagi pembangunan kota kediri secara mendasar dari jalan dan lampu penerangan, sumbangan pembangunan infrastruktur dari lampu jalan, pembangunan Gedung Nasional, hingga fasilitas umum seperti pasar dan pos polisi, tetapi juga kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja Hingga 3 mobil antipeluru kepresidenan.
Apakah konsisten dengan etika bila organisasi2 kesehatan menerima sumbangan dari sebuah perusahaan rokok?
Kesetaraan gender
Berapa sering anda menemukan wanita yang digoda laki2 yang ia tidak kenal di jalan. Sapaan atau perilaku yang melecehkan dan menyerang secara seksual. Wanita secara fisik lebih lemah dari pria dan cenderung menjadi korban dalam pelecehan seksual. Parahnya, dinegara dengan hukum islam, wanita yang diperkosa malah dihukum cambuk. “Tujuh orang pemuda Arab memperkosa seorang gadis di Arab Saudi, namun ironisnya sang gadis juga dihukum cambukSelain dihukum cambuk, wanita korban perkosaan tersebut juga dipenjara selama 6 bulan.”
Memang sebagian besar pria jelas bukanlah pemerkosa dan tidak pernah menyerang seorang wanita secara seksual. Namun, kadangkala justru pria2 ini yang jadi kena getahnya. Adalah rasional bag wanita untuk bersikap curiga pada seorang lelaki yang baru ditemuinya. Adalah rasional bagi seorang wanita untuk mengulur2 waktu dalam mempercayai seorang pria yang sudah dikenalnya. Anda bisa melihat bagaiamana pandangan curiga seorang wanita kepada laki2 yang kebetulan berdua bersama dengannya dalam satu lift. Hal tersebut semata2 keputusan etis yang dipilih oleh wanita dalam lingkungan dimana kesetaraan gender belum tercapai.
Referensi:
Hannah Arendt. Eichmann in Jerusalem : A report on the banality of Evil. New York: Penguin. 1994.
Jane Addams. A modern Lear, survey 29, 1912. Cetak ulang 1994.
John Dewey. The Moral writings of John Dewey. Amherst, New York: PRometheus books. 1994
Marylin Fischer. Ethical fund raising : Deciding what is right. Advancing philanthropy. 1994
Plato. Ion. The dialogues of Plato. Vol 4. Translation by Benjamin Jowett

http://ateisindonesia.wikidot.com/pengambilan-keputusan-secara-etis

(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM HADAPI ETIK/MORAL
Teori-teori etika :
1. Teori Utilitariansme
(tindakan dimaksudkan untuk memberikan kebahagiaan yang maksimal);
2. Teori Deontologi
(tindakan berlaku umum & wajib dilakukan dalam situasi normal karena menghargai:
Norma yang berlaku, Misal kewajiban melakukan pelayanan prima kepada semua orang secara obyektif)
3. Teori Hedonisme
(berdasarkan alasan kepuasan Yang ditimbulkannya): mencari kesenangan, menghindari ketdksenangan;
4. Teori Eudemonisme (tujuan akhir untuk kebahagiaan )
Pengambilan keputusan secara etik :
• Didasarkan pertimbangan benar salah;
• Menyangkut pilihan yang sukar;
• Tidak dapat dielakan;
• Dipengaruhi norma, situasi, iman, lingkungan sosial.
(Brigita Lahutung, 07301541, Manajemen Keuangan)

Sumber PDF ‘PENGAMBILAN KEPUTUSAN DENGAN ETIKA’: mhd.blog.ittelkom.ac.id

About gita1107

An ordinary girl, from Manado, North Celebes, Indonesia.. Addicted to Donuts, Love my family more than anything and always through this life with bless of GOD..

2 responses to “Pertimbangan Etika dalam Pengambilan Keputusan

  1. MOCHEE

    terimaksih buat catatannya…

  2. saya juga mempunyai artikel tentang pohon keputusan, bisa dibaca di: Pohon Keputusan, Demo Pohon Keputusan berbasis web, Jurnal Pohon Keputusan. semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

about.me

Brigita Julianti Lahutung

Brigita Julianti Lahutung

It is Me, Myself and I..

Tweet Me.. ^_^

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Arsip

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 229 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: